Merawat keris atau sering disebut dengan istilah Jamasan atau Nguri-uri—sebenarnya adalah kombinasi antara ilmu metalurgi (perawatan logam) kuno dan aspek kultural. Musuh utama keris adalah kelembapan yang menyebabkan karat (korosi) dan merusak bilah besi yang sudah berusia puluhan hingga ratusan tahun.
Berikut adalah panduan praktis dan tepat untuk merawat keris secara berkala agar tetap awet, indah, dan pamornya tetap menyala:
1. Perawatan Rutin (Bulanan / 2-3 Bulan Sekali)
Perawatan ini bisa Anda lakukan sendiri di rumah tanpa harus merendam keris dalam bahan kimia keras. tujuannya adalah memperbarui lapisan pelindung logam.
-
Pembersihan Ringan: Cabut keris dari warangka (sarungnya) dengan hati-hati. Gunakan kuas halus atau kain mikrofiber untuk membersihkan debu atau sisa minyak lama yang mulai mengering.
-
Pemberian Minyak Keris: Oleskan minyak khusus keris secara tipis dan merata ke seluruh bilah menggunakan kuas kecil.
-
Rekomendasi minyak: Gunakan minyak kelapa murni (VCO) atau minyak mineral (baby oil) yang dicampur dengan minyak esensial (seperti minyak cendana, melati, atau kenanga) sebagai pewangi.
-
Hindari: Minyak goreng bekas atau minyak mesin yang terlalu kental karena bisa mengikat debu dan memicu karat baru.
-
-
Pengeringan: Setelah diminyaki, biarkan keris sejenak (diangin-anginkan) agar minyak meresap dan sisa minyak yang berlebih bisa dilap tipis dengan tisu. Jangan langsung dimasukkan ke warangka jika masih terlalu basah oleh minyak.
2. Perawatan Besar / Jamasan (Setahun Sekali)
Perawatan ini biasanya dilakukan setahun sekali (dalam tradisi Jawa sering dilakukan pada bulan Suro) atau dilakukan hanya jika keris sudah terlanjur sangat kotor dan berkarat tebal. Prosesnya terbagi menjadi tiga tahap:
A. Mutih (Membersihkan Karat)
-
Rendam bilah keris (lepaskan gagangnya terlebih dahulu) dalam air kelapa hijau yang sudah agak asam atau air perasan jeruk nipis/lemon.
-
Asam alami ini akan melunakkan karat tanpa merusak besi keris. Rendam selama 1–3 hari tergantung ketebalan karat.
-
Setelah karat melunak, sikat lembut menggunakan sikat gigi atau sabut kelapa di bawah air mengalir sampai bilahnya berwarna putih keabuan (bersih dari karat).
B. Mewarangi (Memunculkan Pamor)
-
Catatan: Proses ini membutuhkan keahlian. Jika ragu, sebaiknya dibawa ke ahlinya (mranggi/empu).
-
Keris yang sudah bersih dan kering dicelupkan ke dalam larutan Warangan (campuran cairan jeruk nipis dan bubuk arsenikum alami/warangan).
-
Proses kimiawi ini akan membuat besi keris menjadi hitam pekat, sedangkan nikel (pamor) tidak bereaksi dan tetap berwarna putih perak. Kontras inilah yang membuat motif pamor keris terlihat sangat indah.
C. Meminyaki Kembali
-
Setelah diwarangi, keris dibilas air bersih, dikeringkan total (bisa dibantu hair dryer agar tidak ada air terjebak di sela-sela besi), lalu diberi minyak kelapa/cendana seperti pada perawatan rutin.
3. Cara Penyimpanan yang Benar
Cara Anda menyimpan keris sangat menentukan seberapa sering Anda harus merawatnya.
-
Jaga Kelembapan: Simpan keris di tempat yang kering. Jangan menyimpan keris di dalam lemari yang lembap atau langsung menyentuh lantai/tembok. Anda bisa menaruh silica gel di dalam lemari penyimpanan.
-
Posisi Menyimpan: Keris sebaiknya disimpan dalam posisi berdiri (bilah menghadap ke atas) atau diletakkan secara horizontal di atas rak khusus (jagrak).
-
Rawat Warangkanya: Kain bludru atau kayu warangka juga harus sering dibersihkan. Jika kayu warangka mulai kusam, Anda bisa mengolesinya dengan sedikit minyak kayu atau wax lebah (beeswax) agar serat kayunya tetap indah.
-
Hindari Menyentuh Bilah Langsung: Sebisa mungkin, jangan menyentuh bilah keris dengan tangan telanjang setelah dibersihkan. Keringat dan zat asam dari telapak tangan manusia bisa memicu timbulnya karat baru. Peganglah pada bagian gagang (deder) atau gunakan sarung tangan kain.